‘Sampah’ Kelapa Ternyata Masih Ada Harganya

‘Sampah’ Kelapa Ternyata Masih Ada Harganya

Jakarta – Berawal dari hobinya menanam, Afrianto Tri Laksono atau biasa disapa Yayan ini mencoba membuat pot tanaman dari serabut kelapa. Siapa sangka, limbah serabut kelapa dari pabrik sapu yang sudah tidak terpakai dapat diubah menjadi sebuah pot yang menarik dan bernilai jual, hingga dipasarkan ke berbagai kota.

“Dulu saya usaha cireng, saya diajak teman saya main ke pabrik sapu. Nah serabut yang pendek pendek (oleh) pabrik itu biasanya langsung dibakar limbah serabut kelapanya yang tidak terpakai. Dari situ, saya coba lihat di media dan saya coba bikin, karena awalnya saya hanya buat itu untuk sendiri karena saya hobi menanam,” kata Yayan kepada wartawan, Selasa (21/7/2020) kemarin.

Warga Kelurahan Karang Pucung, Kecamatan Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas ini mengatakan, dari hasil pot serabut kelapa yang dia buat tersebut kemudian dia share melalui media sosial. Ternyata banyak peminatnya, hingga akhirnya banyak dipesan dan membuat dia untuk coba menekuni bisnis pembuatan pot dari serabut kelapa tersebut.

“Saya bikin dan saya share di media sosial ternyata banyak yang minat, akhirnya dipesan dan saya buat lagi. Dari situ akhirnya saya mencoba menekuni dan berinovasi lagi tentang bentuk bentuk dari pot serabut kelapa ini,” ucapnya.

Dari hasil pembuatan pot tersebut, dia juga coba menjualnya dengan membuka lapak di GOR Satria Purwokerto yang dibuka setiap hari Minggu. Namun karena pandemi virus Corona, akhirnya penjualan pot serabut kelapa ini tidak bisa dia lakukan, hingga akhirnya dia fokus untuk berjualan melalui media sosial.

“Awalnya penjualan hanya lokalan sini saja dengan berjualan gelar lapak di GOR Satria Purwokerto setiap hari Minggu. Tapi berhubung GOR tutup karena pandemi jadi saya lewat media sosial,” ujarnya.

Siapa sangka, karena banyak waktu untuk berada di rumah selama pandemi membuat Yayan semakin berinovasi untuk membuat berbagai bentuk pot dari serabut kelapa. Bahkan penjualan potnya tersebut meningkat drastis dari biasanya.

“Jadi selama pandemi ini, saya banyak waktu di rumah, jadi otomatis kita pikirannya jalan bikin pot ini diapakan lagi, dibentuk apa lagi jadi banyak berinovasi. Saat pandemi meningkat di penjualan onlinenya cukup lumayan. Karena lagi pandemi gini kita fokus belajar dagang lewat media sosial dan pembelinya luar kota dan sekali beli minimal 10 buah pot, ada juga yang campuran,” jelasnya.

Untuk bentuknya potnya sendiri diakuinya baru memiliki tujuh bentuk diantaranya ada yang berbentuk segi empat, segi tiga, lingkaran, tabung, kerucut dan turus untuk rambatan seperti daun sirih, hingga uji coba membuat sandal dari serabut kelapa.

“Sandal sebenarnya masih uji coba, karena kita belum punya alat untuk bikin sandalnya. Awalnya memang sudah ingin buat sendal dari serabut. Saya buat lembarannya terbuat dari serabut kelapa yang saya olah, saya campur lem dan di pres tapi secara manual. Ternyata hasilnya bagus. Tapi kalau mau dilanjutkan harus ada mesin pres dan mesin jahit sandal,” jelasnya.
Untuk penjualannya sendiri diakuinya sudah keluar kota, diantaranya Jember, Surabaya, Boyolali, Bandung, Jakarta, Depok, Tangerang. Untuk harga mulai Rp 10 ribu hingga Rp 70 ribu tergantung ukurannya

Untuk memenuhi permintaan pot serabut kelapa yang mulai banyak permintaan ini akhirnya dia mendirikan Kelompok Usaha Bersama (KIB) Serabut Kelapa Banyumas. Pekerjaannya merupakan warga sekitar lingkungannya, seperti ibu-ibu dan anak-anak muda.”Yang banyak diminati biasanya yang model kerucut, karena rata-rata masih awam, jadi pembeli pot ini masih yang hobinya anggrek. Padahal pot ini menurut saya tidak hanya untuk anggrek, tapi bisa untuk tanaman apa saja,” ucapnya.

“Alhamdulillah sekarang bisa membuka lapangan pekerjaan untuk warga sekitar sini,” ujarnya.

Dia menjelaskan jika banyak manfaat dari pot serabut kelapa ini. Selain mampu menyimpan air untuk tanaman, pot serabut kelapa ini juga mengandung unsur hara yang baik untuk tanaman.

“Dan keuntungannya juga buat tanaman, kalau ditanam di pot serabut kelapa ini tidak perlu disiram setiap hari, seminggu sekali sudah cukup. Dan kalau pot ini ditaruh di dalam ruangan, di atas meja atau didinding tidak perlu disiram pakai gayung, Cukup disemprot saja dinding-dindingnya sampai basah, dan tidak perlu sering-sering,” tambahnya.”Jadi manfaat serabut kelapa ini untuk tanaman dia sudah mengandung unsur hara yang bagus, jadi ada fosfor dan zat kaliumnya,” katanya.

Untuk pembuatannya sendiri biasanya Yayan menggunakan kawat strimin yang dipotong dan dibentuk sesuai bentuk pot. Setelah itu, serabut kelapa dimasukkan dan dipadatkan dan dikunci oleh kawat strimin lainnya yang lebih kecil mengikuti bentuk pot.

Dwi Wahyono (60) warga Purwokerto yang membeli pot dari serabut kelapa ini mengatakan jika dirinya sengaja mencari pot tersebut karena pot serabut kelapa sangat baik untuk tanaman. Berbeda dengan pot plastik pada umumnya.

“Saya tertarik (mencari dan membeli) itu karena media ini bisa langsung untuk tumbuh akar, jadi sekaligus untuk media tanam, beda dengan vas pot yang lain. Kalau ini jelas kandungan dari serabut kelapa itu memang bagus untuk tanaman,” jelasnya.

“Jadi memang saya tertarik sekali untuk itu, biasanya pakai cocopead hanya untuk campuran tanah untuk media tumbuh. Nah kalau ini sekaligus bisa untuk sarana pengembangan akar tanaman, saya tertarik karena ini juga baru,” ujarnya.Biasanya, sebagai media tanam dirinya menambahkan cocopeat yang dicampur tanah untuk membuat tanamannya tumbuh subur dan baik. Namun setelah mengetahui jika ada penjual pot dari serabut kelapa dia mengatakan jika dirinya sangat tertarik dan langsung mencari.

Dia mencontohkan jika pot ini sangat bagus pada tanaman anggrek, berbeda apabila menggunakan pot pada umumnya. Ditambah kelebihan pada pot ini yang mampu menyimpan air agar tahan lebih lama.

“Biasanya kalau tanaman anggrek misalnya, harus motong-motong serabut yang masih utuh itu, dipotong potong untuk media tanam juga. Nah ini sudah tidak pakai itu lagi, tapi langsung. Nantinya bagus sekali,” ucapnya.

 

Artikel ini muncul pertama di DetikFinance dengan judul “‘Sampah’ Kelapa Ternyata Masih Ada Harganya”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2020 Sampit
%d bloggers like this: