Ini Alasan Disperdagin Belum Izinkan Pedagang Kuliner ke Dalam Eks Mentaya

Ini Alasan Disperdagin Belum Izinkan Pedagang Kuliner ke Dalam Eks Mentaya

PASAR EKS MENTAYA : JMY/BERITA SAMPIT – Lokasi pedagang kuliner di kawasan eks mentaya saat ini, Pemerintah belum mengizinkan mereka untuk masuk ke dalam.  

SAMPIT – Sekitar 40 pedagang kuliner di kawasan eks mentaya sampit belum diizinkan untuk menempati tempat yang telah disediakan pemerintah daerah Kotawaringin Timur (Kotim). Meski demikian, ratusan pedagang kain, aksesoris dan lainnya telah menempati sejumlah kios yang tersedia di gedung dua lantai pasar eks mentaya sampit sejak beberapa waktu lalu.

Belum diizinkannya pedagang kuliner kawasan pasar eks mentaya Sampit masuk karena menurut Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperdagin) Kotim. M Tahir bahwa pihaknya masih menghitung luasan tempat pedagang.

“Demi mencukupi lokasi untuk para pedagang. Makanya kita masih menghitung luasannya,” ungkap Tahir, Sabtu 18 April 2020

Sebelumnya, ratusan pedagang dikawasan tersebut pada data Disperindagsar jumlah pedagang di pasar eks mentaya teather berdasarkan SK Bupati Kotawaringin Timur (Kotim)  nomor 188.45/0040/HUK/Disperdagin/2020 tanggal 11 Januari 2020 pada hasil pendataan pemukhtahiran data yang dilaksanakan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin), Satpol PP, Polsek Ketapang, Danramil Ketapang sebanyak 222.

BACA JUGA:   Riskon Fabiansyah: Isolasi Bagi ODP di Islamic Center Merupakan Langkah Terakhir

Ratusan pedagang itu telah mendapatkan tempat dengan jenis dagangannya sejumlah 188 yang terdiri dari 74 pedagang kain, 18 pedagang aksesoris, 30 pedagang sepatu sandal, 13 pedagang aksesoris HP, 12 pedagang tas, 9 pedagang ATK, 3 pedagang kacamata, 2 pedagang jam, 5 pedagang kosmetik, 11 pedagang topi/sabuk.

Saat ini pedagang yang mendapatkan tempat berdasarkan hasil undian sebanyak 188 pedagang. Sedangkan yang belum di undi sebanyak 44 pedagang terdiri dari pedagang kuliner, stiker yang belum mendapat tempat kurang lebih 25 orang. Mereka yang memegang SK Kepala Disperdagin Kotim tahun 2016 dan saat pendataan tidak aktif sehingga tidak terdata oleh tim pemukhtahiran data dan yang dipakai untuk pembagian kios sekarang adalah SK Bupati.

BACA JUGA:   Dermaga di Desa Bajarum Kian Memprihatinkan

Disamping itu seorang pedagang di kawasan pasar eks mentaya Sampit yang enggan menyebutkan nama nya berpendapat bahwa relokasi berulang kali itu membuat para pedagang kuliner gerah.

“Kita sudah swadaya untuk merehab tempat berjualan dengan membeli besi dan seng. Setiap kami kemarin berpupuan sebanyak satu juta rupiah, namun sekarang kabarnya mau disuruh lagi masuk ke dalam. Jadi kebijakan ini tidak sekaligus. Tetapi berincitan, sehingga membuat kami banyak pengeluaran,” kata pria serumur sekitar 40 tahun itu

Saat ditanyakan, ia menjelaskan jika mereka masuk ke dalam pasar eks mentaya sampit. Maka material yang telah mereka pasang otomatis akan dibongkar lagi.

“Tidak tau nanti dikemanakan material ini, karena kemarin saat berpupuan itu lumayan mahal. Tergantung kesepakatan kawan-kawan peguyunan saja nanti, mungkin di bawa masing-masing,” demikiannya

(jmy/beritasampit.co.id)

Copyright © 2021 Sampit
%d bloggers like this: