Harga Karet Turun Drastis, Petani Terancam Gulung Tikar

Harga Karet Turun Drastis, Petani Terancam Gulung Tikar

Ilustrasi/Net.

SAMPIT – Ditengah teror pandemi virus Corona atau Covid-19 saat ini nasib para petani karet di Kotawaringin Timur (Kotim) kian miris, pasalnya harga jual bahan baku utama berbagai macam produk industri tersebut turun drastis hingga diangka level terbawah yakni 5.300 Rupiah perKg-nya.

Rusmadi (54) salah satu warga Desa Bukit Raya, Kecamatan Cempaga Hulu, mengungkapkan, harga jual karet kepada pengepul sebelumnya sempat berada di angka 8.500 rupiah per kilogramnya, namun seiring wabah virus Corona saat ini harga jual karet semakin turun.

“Bulan lalu sempat naik di angka 8.300, setelah muncul virus Corona ini langsung turun ke 5 300, itupun bersyukur karena masih ada pengepul yang membeli, anjlok sekali harganya, saya sendiri terpaksa harus mencari pekerjaan tambahan, dengan penghasilan 10 sampai 15 per hari tinggal hitung saja berapa hasil yang kami dapat, jelas tidak seimbang dengan kebutuhan,” ungkapnya dikonfirmasi beritasampit Sabtu 11 April 2020 tadi siang.

BACA JUGA:   Warga Desa Rawa Sari Produksi Minuman Jeruk Lemon

Salah satu tokoh masyarakat desa setempat ini juga mengatakan, jika harga jual beli karet ini kian turun dampaknya terhadap ekonomi masyarakat terutama para petani karet itu sendiri sangat besar, ditambah sulitnya mencari pekerjaan saat ini.

“Bisa-bisa gulung tikar, jangankan petani, pengusaha saja kalau membeli tidak ada untungnya percuma, bisa jadi akan bernasib sama dengan petani karet seperti kami ini juga,” jelasnya.

Pria paruh baya ini juga menjelaskan, saat ini di desanya sedang diterapkan anjuran dari pemerintah untuk mengurangi aktivitas di luar rumah.

Namun menurutnya di satu sisi soal kebutuhan ekonomi masyarakat setempat mengharuskan mereka untuk tetap bekerja dan mengatur waktu sebaik mungkin.

BACA JUGA:   85 Anggota PPK Dilantik, KPU Ingatkan Jaga Netralitas

“Kalau aktivitas dimalam hari mungkin bisa dikurangi kalau siang kami tetap bekerja, dengan tuntutan isi perut, ditambah nilainya yang tidak seberapa, dibandingkan dengan harga bahan pokok maka kami petani karet ini harus bekerja semaksimal mungkin, disini (desa setempat) anjuran pemerintah diterapkan, terutama mengurangi aktivitas dan jaga jarak,” urainya.

Dia juga berharap agar pemerintah daerah memberikan solusi dan membantu beban ekonomi yang ditanggung oleh masyarakat saat ini khususnya para petani karet yang kian terjepit oleh turunnya harga dan terdampak virus Corona saat ini.

“Harapan kami semoga pemerintah meringankan beban kami, khususnya petani karet ini, kami di pedesaan ini pastinya mengharapkan kebutuhan kami sehari-hari bisa terpenuhi itu saja,” tutupnya.

(Drm/beritasampit.co.id)

Sumber: BeritaSampit.co.id

Copyright © 2020 Sampit